Friday, 29 April 2016

Tujuan utama ziarah kubur ada dua :

Pertama, tujuan yang manfaatnya kembali kepada orang yang berziarah. Bentuknya mengingatkan orang yang berziarah akan kematian dan kehidupan dunia yang fana. Bekal utama mereka adalah iman dan amal soleh.
Tujuan ini yang sering ditekankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمِ الْآخِرَةَ
”Dulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang lakukanlah ziarah kubur, karena ziarah kubur mengingatkan kalian akan akhirat.” (HR. Ahmad 1236 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).
Dalam riwayat lain, beliau bersabda,
فَزُورُوَا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكّركُمُ الـمَوتَ
Lakukanlah ziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kalian tentang kematian.” (HR. Ibn Hibban 3169 dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Kedua, tujuan yang manfaatnya kembali kepada mayit
Bentuknya adalah salam dari pengunjung dan doa kebaikan untuk mayit, serta seluruh penghuni kubur lainnya. Orang mati yang sudah tidak mampu menambah amal, dia sangat membutuhkan doa orang yang masih hidup.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita doa ketika berziarah kubur. Teks doanya,
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIINA WAL MUSLIMIIN. YARHAMULLOOHUL MUSTAQDIMIINA MINNAA WAL MUSTA’KHIRIIN.
WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN
WA AS ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH.
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”
Hadis ini diajarkan kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang doa yang dibaca pada saat ziarah kubur.
(HR. Ahmad 25855, Muslim 975, Ibnu Hibban 7110, dan yang lainnya).
Bisa juga dengan bacaan yang lebih ringkas,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kuburan. Kemudian beliau berdoa,
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
“Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum mukiminin. Kami insyaaAllah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim 249).

Tidak Dianjurkan Membaca al-Quran di Kuburan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim 1631).
Imam an-Nawawi (w. 676 H) – salah satu ulama madzhab Syafiiyah – menjelaskan hadis ini, dengan mengatakan,
وَفِيهِ أَنَّ الدُّعَاء يَصِل ثَوَابه إِلَى الْمَيِّت , وَكَذَلِكَ الصَّدَقَة ….وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن وَجَعْل ثَوَابهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاة عَنْهُ وَنَحْوهمَا فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور أَنَّهَا لا تَلْحَق الْمَيِّت
Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa doa akan sampai pahalanya kepada mayit, demikian pula sedekah… sedangkan bacaan al-Quran, kemudian pahalanya dihadiahkan untuk mayit, atau shalat atas nama mayit, atau amal ibadah lainnya, menurut madzhab Imam as-Syafii dan mayoritas ulama, amalan ini tidak bisa diberikan kepada mayit. (Syarh Shahih Muslim, 11/85).

Mendoakan Mayit Bisa Dimanapun

Seluruh orang yang telah meninggal, snagat membutuhkan doa baik dari mereka yang hidup, karena mayit tidak lagi mampu beramal.Karena itu, jangan sampai kita memiliki prinsip, hanya mendoakan keluarga yang telah meninggal jika kita ziarah kubur. Padahal, ziarah kubur tidak mungkin bisa sering kita lakukan. Umumnya orang hanya setahun sekali.
Untuk itu, penting dipahami bahwa mendoakan mayit bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Anda tidak perlu bergantung kepada kuburan, ketika hendak mendoakan mayit. Anda bisa doakan keluarga yang telah meninggal, ketika di masjid, seusai shalat tahajud, atau ketika di tempat mustajab pada saat haji atau umrah.
Allah ajarkan prinsip mendoakan saudara kita yang telah meninggal, dalam firman-Nya,
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Jika kita renungkan, sejatinya adanya saling mendoakan antara yang hidup dan yang mati, merupakan bagian dari nikmat Allah kepada orang yang beriman. Karena ikatan iman, orang yang masih hidup bisa tetap memberikan doa kepada orang lain, meskipun dia sudah meninggal.

Tidak Boleh Mendoakan Orang Kafir yang Meninggal

Ketika Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sedih. Sedih bukan karena ditinggal pamannya, tapi sedih karena sang paman mati dalam keadaan musyrik. Pamannya tidak bersedia mengucapkan laa ilaaha illallah.
Karena saking sedihnya, sampai beliau bersumpah untuk memohonkan ampunan bagi pamannya,
وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ
”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang.” (HR. Bukhari 1360 & Muslim 24).
Karena peristiwa ini, Allah menurunkan teguran kepada beliau,
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ( ) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. ( ) Sementara permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun. (QS. At-Taubah: 113 – 114).
Nabi Ibrahim pernah mendoakan ayahnya dengan doa ampunan,
سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS. Maryam: 47)
Dan doa ini beliau panjatkan sebelum beliau tahu, ayahnya akan mati kafir.
Allahu a’lam

Sumber : https://konsultasisyariah.com/20865-doa-ziarah-kubur.html

Monday, 21 March 2016

TATA CARA MANDI

KITAB THAHARAH (BERSUCI)

E.  M A N D I
Mandi adalah menyiramkan air ke seluruh permukaan tubuh dengan niat. Yang dimaksud dengan mandi dalam pembahasan ini adalah mandi ibadah, baik mandi yang bersifat wajib –seperti mandi karena junub– maupun sunah –seperti mandi untuk shalat Jum’at–.
Mandi adalah perbuatan yang disyariatkan baik untuk ibadah maupun bukan ibadah berdasarkan Alquran dan hadits. Adapun Alquran:
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا
“Dan jika kamu junub maka bersucilah (mandilah).” (Al-Mâidah: 6).
Rasulullah SAW bersabda:
حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِيْ كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْماً، يَغْسِلُ فِيْهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ
“Sepantasnya bagi setiap muslim untuk mandi pada satu hari dalam tujuh hari. Ia membasuh di dalamnya kepala dan badannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

a. Rukun Mandi
Mandi memiliki dua rukun, yaitu berniat melaksanakan mandi wajib dan menyiramkan air ke seluruh tubuh secara merata.
1. Niat dilakukan bersamaan dengan menyiramkan air pertama kali ke atas tubuh. Nabi SAW bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Niat yang dihadirkan adalah untuk menghilangkan hadas besar, seperti dengan menyatakan dalam hati: (نَوَيْتُ اْلغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلأَكْبَرِ) “aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar.”
2. Menyiramkan air ke seluruh permukaan tubuh bagian luar. Aisyah RA berkata: “Nabi SAW jika mandi junub maka akan memulai dengan mencuci kedua tangannya. Lalu beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Lalu memasukkan tangannya ke air dan menyela-nyela rambutnya dengan itu. Lalu mengucurkan air ke atas kepalanya tiga kali. Lalu menyiramkan air ke seluruh permukaan kulitnya.” (HR. Bukhari).

b. Sunah Mandi
Perbuatan-perbuatan yang disunahkan dalam mandi berjumlah banyak. Sebagian besar memiliki kesamaan dengan perbuatan yang disunahkan dalam berwudhu karena keduanya memiliki kesamaan sebagai sarana dalam bersuci. Diantara sunah mandi tersebut adalah:
1. Menghilangkan kotoran dari seluruh tubuh. Maimunah RA menceritakan tentang mandi Rasulullah SAW: “Lalu beliau menuangkan air ke tangan kiri dan membersihkan kemaluannya.”
2. Buang air kecil jika mandinya disebabkan keluar air mani agar sisa air mani yang mungkin tertinggal pada kemaluan dapat ikut keluar.
3. Menghadap kiblat.
4. Mandi sambil berdiri.
5. Membaca basmalah dan berniat melaksanakan sunah mandi.
6. Bersiwak atau membersihkan gigi.
7. Mencuci kedua telapak tangan.
8. Berkumur dan membersihkan hidung.
9. Berwudhu, baik sebelum mandi, setelahnya atau di tengah-tengahnya.
10. Mencermati anggota tubuh yang mungkin tidak terkena air karena keabsahan mandi tergantung sampainya air ke seluruh permukaan tubuh.
11. Menyela-nyela rambut.
12. Menggosok tubuh.
13. Memulai dari sebelah kanan.
14. Menigakalikan siraman.
15. Muwalah, yaitu tidak membiarkan bagian tubuh kering sebelum tubuh yang lain terkena air.
16. Menutup bagian aurat besar (kedua kemaluan).

c. Tatacara Mandi
Berikut tatacara mandi yang disunahkan:
1. Bersihkan badan dari seluruh kotoran, baik najis ataupun lainnya, seperti air mani, air kencing, dan lain sebagainya.
2. Berniat melakukan sunah mandi, lalu menghadap kiblat, mengucapkan basmalah, bersiwak atau membersihkan gigi, mencuci kedua tangan, berkumur dan membersihkan hidung masing-masing dilakukan sebanyak tiga kali.
3. Membersihakn kedua kemaluan dan sekitarnya dengan berniat menghilangkan hadas besar atau dengan niat mandi sunah (sesuai jenis mandi yang dilakukan).
4. Berwudhu secara sempurna dengan semua sunah-sunahnya. Untuk niat wudhu ini, jika ia berhadas kecil maka berniat menghilangkan hadas kecil, tapi jika tidak berhadas kecil maka berniat melaksanakan sunah mandi.
5. Menyiramkan air ke atas kepalanya sambil berniat melaksanakan mandi wajib atau mandi sunah.
6. Menyiramkan air ke sebelah kanan tubuhnya pada bagian depan, lalu ke bagian belakang. Lalu menyiramkan air ke sebelah kiri bagian depan lalu bagian belakang.
7. Memastikan bahwa air telah mengenai seluruh tubuh bagian luar dengan mencermati bagian tubuh yang mungkin tidak terkena air, seperti ketiak, sela-sela jari, selangkangan, ujung mata, rongga dan daun telinga, serta lipatan tubuh.

d. Mandi-mandi Sunah
Terdapat berbagai jenis mandi-mandi sunah, diantaranya adalah:
1. Mandi Jum’at. Ini adalah mandi sunah yang terbaik. Waktunya dimulai sejak terbit fajar pada hari Jum’at. Dianjurkan untuk mengakhirkan mandi Jum’at hingga sebelum berangkat ke masjid.
Nabi SAW bersabda tentang hari Jum’at:
لَوْ أَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هَذَا
“Hendaklah kalian bersuci (mandi) untuk hari kalian ini.” (HR. Bukhari dan Mulsim).
2. Mandi hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwatha’ dari Ibnu Umar RA bahwa beliau melakukan mandi sebelum pergi melaksanakan shalat Ied. Waktunya dimulai sejak pertengahan malam hari raya dan berakhir ketika terbenam matahari. Mandi ini dianjurkan karena keberadaan hari raya, bukan karena akan menghadiri shalat Ied, sehingga dianjurkan untuk semua orang meskipun ia tidak pergi melaksanakan shalat Ied seperti wanita haid dan anak yang telah mumayiz.
3. Mandi bagi orang yang memandikan mayit. Dilakukan setelah seseorang memandikan mayit, meskipun mayit orang kafir. Waktunya dimulai sejak selesai memandikan mayit dan berakhir ketika tidak ada keinginan mandi. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ
“Barang siapa yang memandikan mayit maka hendaklah mandi.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam riwayat lain:
مِنْ غُسْلِهِ الْغُسْلُ وَمِنْ حَمْلِهِ الْوُضُوءُ
“Hendaklah mandi karena memandikan mayit, dan hendaklah wudhu karena membawanya.” (HR. Tirmidzi).
4. Mandi shalat Istisqa (meminta hujan), karena ini adalah shalat yang dianjurkan untuk berkumpul sehingga dianjurkan untuk mandi seperti shalat Jum’at. Jika shalat ini dilakukan sendiri maka waktu mandi dimulai sejak akan melaksanakan shalat, tapi jika dilakukan secara berjamaah maka ketika orang-orang sudah mulai berkumpul. Waktunya berakhir dengan berakhirnya shalat.
5. Mandi shalat kusuf dan khusuf (gerhana matahari dan bulan), karena dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah. Waktunya dimulai ketika sudah mulai berubah dan berakhir dengan berakhirnya shalat.
6. Mandi orang yang baru masuk Islam. Jika orang yang baru masuk Islam tersebut tidak pernah junub ketika kafir, tetapi jika pernah junub maka hukumnya wajib. Diriwayatkan oleh Qais bin Ashim berkata: “Aku datang kepada Nabi SAW untuk masuk Islam maka beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air dan daun bidara.” (HR. Abu Daud).
7. Mandi setelah sadar dari pingsan atau gila. Sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah RA: “Rasulullah SAW dalam keadaan sangat berat dalam sakitnya. Beliau berkata: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab: “Belum. Mereka menunggumu, ya Rasulullah.” Beliau berkata: “Letakkan air di bejana.” Kami pun menuruti. Beliau mandi lalu berdiri untuk pergi dengan susah payah. Beliau pun pingsan. Ketika sadar kembali beliau berkata: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab: “Belum. Mereka menunggumu, ya Rasulullah.” Beliau berkata: “Letakkan air di bejana.” Kami pun menuruti. Beliau mandi lalu berdiri untuk pergi dengan susah payah. Beliau pun pingsan. Ketika sadar kembali beliau berkata: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab: “Belum. Mereka menunggumu, ya Rasulullah.” Lalu beliau mengutus Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
8. Mandi setelah melakukan bekam. Aisyah RA berkata: “Nabi SAW mandi karena empat perkara: junub, hari Jum’at, selesai berbekam dan memandikan mayit.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).
9. Mandi untuk masuk masjid.
10. Mandi pada setiap malam bulan Ramadhan. Dimulai sejak magrib agar tubuhnya lebih segar bugar.
11. Mandi dalam haji dan umrah. Seperti mandi untuk ihram, ketika akan masuk kota Mekah, akan melaksanakan wukuf di Arafah, akan thawaf dan melempar jumrah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwa beliau melaksanakan mandi sebelum ihram, sebelum masuk Mekah dan pada malam Arafah untuk wukuf (HR. Malik).
12. Mandi untuk masuk ke kota Madinah.
13. Mandi karena akan menghadiri suatu acara yang dihadiri banyak kaum muslimin.

wallahu a’lam.
Terima Kasih Ust.Ahmad Ghozali Assegaf Atas Kajiannya Semoga Dapat Memberikan Ilmu Yg Bermanfaat Bagi Banyak Orang,Semoga Selalu Di berikan Umur Yg Panjang Amiin..
http://ahmadghozali.com

Tuesday, 15 March 2016

TATA CARA BERWUDHU

KITAB THAHARAH (BERSUCI)

D. W U D H U
Secara bahasa wudhu berarti indah. Wudhu adalah membasuh atau mengusap air pada anggota badan tertentu dengan cara tertentu.
Wudhu disyariatkan berdasarkan Alquran dan hadits. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Mâidah: 6).
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Humron bahwa Utsman bin Affan RA memintanya mengambilkan air untuk wudhu. Lalu beliau membasuh (mencuci) kedua telapak tangannya tiga kali. Lalu berkumur, menghirup air (istinsyaq) dan membuangnya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali, lalu tangan kiri seperti itu juga. Lalu mengusap kepalanya. Lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali, lalu kaki kiri seperti itu juga. Lalu Utsman berkata: “Aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu seperti wudhuku ini.”

a. Syarat-syarat Wudhu
Terdapat beberapa syarat agar wudhu menjadi sah, yaitu:
1. Islam.
2. Mumayiz, yaitu seorang anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Sejumlah ulama membatasinya dengan umur yaitu tujuh tahun.
3. Suci dari haid dan nifas.
4. Tidak ada sesuatu yang menghalangi air sampai pada kulit, seperti benda berbahan plastik, cat, lilin dan minyak. Begitu pula kotoran kuku dan mata yang dianggap menghalangi sampainya air ke permukaan kulit.
5. Bebas dari najis aini (yang memiliki rasa, bau atau warna).
6. Berwudhu dengan air yang suci dan mensucikan.
7. Tidak ada sesuatu yang dapat merubah sifat air, seperti sabun atau tinta.
8. Mengalirnya air secara alami ke anggota wudhu selain rambut (kepala), sehingga tidak cukup dengan kain basah atau batu es.
9. Telah masuk waktu dan dilakukan secara muwalah (tidak terputus) bagi orang yang memiliki gangguan beser dan perempuan yang kedatangan darah penyakit (istihadhah).

b. Rukun wudhu
Wudhu memiliki enam rukun. Empat rukun ditetapkan berdasarkan ayat wudhu (surah Al-Mâidah ayat 6) dan dua rukun (yaitu niat dan tertib) didasarkan pada hadits-hadits Nabi SAW. Keenam rukun tersebut yaitu:
1. Niat. Nabi SAW bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Niat dilakukan bersamaan dengan membasuh bagian pertama dari wudhu yaitu wajah. Niat yang diperhitungkan adalah yang dihadirkan dalam hati. Pelafalan niat dengan lisan tidak dianggap sebagai niat tapi melakukannya adalah sunah (dianjurkan). Niat boleh dengan bahasa selain Arab.
Contoh niat wudhu: ( نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلأَصْغَرِ لِلهِ تَعَالَى ) “Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil karena Allah Ta’ala.”
2. Membasuh wajah. Yang dimaksud membasuh atau mencuci adalah mengalirkan air pada permukaan kulit sehingga tidak cukup sekedar mengelap wajah dengan kain basah atau tangan basah. Batas wajah adalah dari tempat tumbuhnya rambut di bagian ubun-ubun kepala hingga tempat tumbuhnya jenggot di bagian dagu, dan dari batas telinga kanan hingga telinga kiri.
3. Membasuh kedua tangan hingga siku.
4. Mengusap rambut atau kulit kepala. Yang dimaksud mengusap adalah membasahi (mengelap) dengan sisa air yang ada di tangan. Rambut yang boleh diusap adalah yang tidak keluar dari batas kepala jika diulur ke bawah.
5. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.
6. Maksudnya melakukan rukun-rukun diatas secara berurutan dari awal hingga akhir berdasarkan berbagai dalil baik Alquran maupun hadits serta perbuatan Nabi SAW yang selalu melaksanakan wudhu secara berurutan.

c. Sunah wudhu
  • Pertama: Sunah wudhu secara umum:
1. Menghadap kiblat karena kiblat adalah arah terbaik dan merupakan arah dalam setiap ketaatan.
2. Duduk untuk menghindari cipratan air mustakmal (bekas wudhu) karena dianggap air kotor meskipun suci dan karena sebagian ulama menganggapnya najis.
3. Tidak berbicara.
4. Memulai dari anggota sebelah kanan, berdasarkan hadits:
إِذَا تَوَضَّأْتُمْ فَابْدَؤُوْا بِمَيَامِنِكُمْ
“Jika kalian berwudhu maka mulailah dari bagian kanan.” (HR. Ibnu Majah).
5. Menggosok permukaan kulit, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Zaid bahwa Nabi SAW menggosok kulitnya dalam wudhu (HR. Ahmad).
6. Menigakalikan dalam membasuh dan mengusap, sebagaimana hadits Utsman yang menceritakan tatacara wudhu Nabi SAW (HR. Bukhari dan Muslim).
7. Tidak membasuh atau mengusap lebih dari tiga kali. Berdasarkan sabda Nabi SAW setelah beliau berwudhu dengan menigakalikan basuhan:
هَكَذَا الْوُضُوْءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا أَوْ نَقَصَ فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ
“Begitulah wudhu. Maka barang siapa menambah dari ini atau menguranginya maka sungguh ia berlaku buruk dan zalim.” (HR. Abu Daud).
8. Muwalah, yaitu melakukan wudhu secara berkelanjutan sehingga anggota wudhu pertama tidak kering ketika membasuh anggota yang kedua. Ini didasarkan atas perbuatan Nabi SAW yang selalu menyelesaikan wudhu tanpa ditunda.
9. Hemat dalam menggunakan air. Karena berlebih-lebihan adalah hal yang dilarang. Nabi SAW juga bersabda:
إِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الطَّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ
“Sungguh akan ada di umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan doa.” (HR. Abu Daud).
10. Tidak meminta bantuan dalam berwudhu karena dapat menghilangkan kerendahan diri dan menimbulkan kesombongan. Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW tidak menyerahkan urusan wudhunya kepada orang lain. Tidak pula dalam urusan sedekah yang beliau akan berikan kepada orang lain. Beliau sendiri yang melakukan itu semua.” (HR. Ibnu Majah).
11. Tidak mengibaskan anggota wudhu sehingga air yang ada padanya menjadi hilang atau kering. Karena tindakan itu seperti menunjukkan ketidaknyamanan dengan ibadah. Dan setiap tetes air di tubuh orang yang berwudhu akan mengurangi dosa-dosa yang ada padanya hingga tetes terakhir.
12. Tidak mengeringkan air pada anggota wudhu dengan kain kecuali darurat. Diriwayatkan bahwa Maimunah RA –isteri Nabi SAW—memberikan handuk kepada beliau setelah mandi tetapi beliau tidak mengambilnya dan mengurangi air dengan tangannya. (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Kedua: Sunah wudhu sebelum membasuh wajah.
1. Berniat melakukan sunah wudhu. Karena amalan yang tidak disertai niat ibadah tidak dianggap sebagai ibadah.
2. Membaca basmalah dan ta’awudz. Karena anjuran membaca basmalah dalam setiap perbuatan baik. Dan diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:
تَوَضَّؤُوْا بِسْمِ اللهِ
“Berwudhulah dengan menyebut nama Allah.” (HR. Nasa`i).
3. Bersiwak atau membersihkan gigi. Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ
“Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap wudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Membasuh kedua telapak tangan hingga pergelangan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid RA ketika ditanya tentang tata cara wudhu Nabi SAW. Maka beliau meminta diambilkan bejana air lalu berwudhu seperti wudhunya Nabi SAW. Beliau menuangkan air ke telapak tangannya dari bejana dan mencucinya tiga kali. Lalu memasukkan tangannya dalam bejana itu. (HR. Bukhari dan Muslim).
5. Berkumur-kumur.
6. Membersihkan lubang hidung, yaitu dengan menghirup air dan mengeluarkannya kembali. Dalam hadits Abdullah bin Zaid RA yang menyontohkan wudhu Nabi SAW: Lalu berkumur, menghirup air dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sangat dianjurkan untuk berlebih-lebihan dalam berkumur dan membersihkan hidung kecuali jika sedang berpuasa. Nabi SAW bersabda:
وَبَالِغْ فِي اْلاسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً
“Dan berlebihanlah dalam menghirup air kecuali jika berpuasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i dan Ibnu Majah).
  • Ketiga: Sunah wudhu ketika membasuh wajah.
1. Melafalkan niat, yaitu bersamaan dengan basuhan pertama pada wajah.
2. Memulai membasuh wajah dari bagian atas.
3. Mengambil air dengan kedua telapak tangan.
4. Memperhatikan bagian ujung mata yang berada di dekat hidung.
5. Menyela-nyela jenggot dan jambang yang lebat. Berdasarkan hadits Anas RA bahwa Rasulullah SAW jika berwudhu akan mengambil air dengan telapaknya dan meletakkan di bawah mulutnya lalu beliau menyela-nyela jenggotnya. Lalu beliau bersabda: “Beginilah aku diperitah oleh Tuhanku.” (HR. Abu Daud).
6. Melebihkan basuhan dari batas wajah. Juga bagian lain dari anggota wudhu. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil dalam keadaan bersinar (wajah, tangan dan kakinya) karena bekas wudhu. Maka barang siapa diantara kalian yang dapat untuk melebihkan basuhannya maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
7. Tidak memukulkan air ke wajah.
  • Keempat: Sunah wudhu ketika membasuh kedua tangan.
1. Memulai basuhan dari kedua telapak tangan jika menyiramkan air adalah dirinya sendiri. Namun, jika yang menyiramkan adalah orang lain –termasuk juga kran air– maka dimulai dari bagian siku-siku.
2. Menyela-nyela jari-jemari. Berdasarkan perintah Nabi SAW:
وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ
“Dan sela-selailah jari-jemari.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i dan Ibnu Majah).
3. Melebihkan basuhan dari batas tangan.
4. Menggerakkan cincin sehingga air benar-benar mengenai kulit di bawah cincin.
  • Kelima: Sunah wudhu ketika mengusap rambut atau kepala.
1. Mengusap semua rambut kepala. Caranya dengan meletakkan kedua ibu jari di kedua pelipis dan menempelkan kedua jari telunjuk serta meletakkanya di atas dahi (tempat tumbuh rambut). Lalu menarik tangannya ke belakang dan mengembalikan ke depan lagi jika rambutnya dapat dibalik. Tapi jika rambutnya pendek sekali atau panjang –seperti rambut perempuan– maka tidak perlu menarik kembali ke depan.
Hal ini sebagaimana perkataan Abdullah bin Zaid RA: “Bahwa Rasulullah SAW mengusap kepalanya dengan kedua tangan maju dan mundur. Beliau memulai dari bagian depan kepala dan digeser hingga tengkuknya. Lalu beliau kembalikan ke tempat semula.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Membasuh kedua telinga setelah membasuh rambut atau kepala. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA ia berkata: “Nabi SAW membasuh kepalanya dan kedua telinganya bagian dalam luar dan dalam.” (HR. Tirmidzi).
  • Keenam: Sunah wudhu ketika membasuh kedua kaki.
1. Memulai basuhan dari ujung jari.
2 Melebihkan basuhan dari batas mata kaki.
3. Berlebihan dalam membasuh tumit. Nabi SAW bersabda:
وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ
“Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh) dalam neraka.”
4. Menyela-nyela jari kaki.
  • Ketujuh: Sunah wudhu setelah selesai berwudhu.
1. Membaca doa wudhu sambil menghadap kiblat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa tidak sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang mensucikan.”
2. Melaksanakan shalat dua rakaat wudhu. Dianjurkan membaca surah al-Kaafiruun pada rakaat pertama dan surah al-Ikhlaash pada rakaat kedua. Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
“Tiada seorang muslim yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat dengan penuh kekhusyukan dengan wajah dan hatinya kecuali ia pasti mendapatkan surga.” (HR. Muslim).
Wallahu A’lam.

 Thanks To Al Ustadz Ahmad Ghozali Assegaf
http://ahmadghozali.com/196-2/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=facebook

Wednesday, 10 February 2016

Renungan Diri

Kawan...
Disaat kita memakai jam tangan seharga Rp 500.000,- atau Rp 500.000.000,-, kedua jam itu menunjukkan waktu yg sama.
Ketika kita membawa tas atau dompet seharga Rp 500.000,- atau Rp 500.000.000,-, keduanya sama2 dapat membantumu membawa sebagian barang/uang.
Waktu kita tinggal di rumah seluas 50 m2 atau 5.000 m2, kesepian yg kita alami tetaplah sama.
Ketika kita terbang dengan first class atau ekonomi class, maka saat pesawat terbang jatuh maka kita pun ikut jatuh.
Kawan..
Kebahagiaan sejati bukan datang dari harta duniawi.
Jadi ketika kita memiliki pasangan, anak, saudara, teman dekat, teman baru dan lama...
Lalu kita ngobrol, bercanda, tertawa, bernyanyi, bercerita tentang berbagai hal, berbagi suka dan duka- itulah kebahagiaan sesungguhnya.
Hal penting yang patut di renungkan dalam hidup :
1. Jangan mendidik anak mu untuk terobsesi menjadi kaya. Didiklah mereka menjadi bahagia. Sehingga saat mereka tumbuh dewasa mereka menilai segala sesuatu bukan dari harganya.
2. Kata2 yg terbaik di Inggris :
"Makan makananmu sebagai obat. Jika tidak, kamu akan makan obat2an sebagai
makanan."
3. Seseorang yg mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu karena walaupun ada 100 alasan untuk menyerah, dia akan menemukan 1 alasan untuk bertahan.
4. Banyak sekali perbedaan antara "manusia & menjadi manusia"
Hanya yg bijak yang mengerti tentang itu.
5. Hidup itu antara
"B" birth (lahir) dan "D" death (mati),
diantara nya adalah ada "C" choice (pilihan) hidup yang kita jalani, keberhasilannya ditentukan oleh setiap pilihan kita.
Kawan...
Jika kamu mau berjalan cepat, Jalanlah sendirian. Tetapi Jika kamu ingin berjalan jauh, jalanlah bersama sama.
6. Ada 6 dokter terbaik,
1. Keluarga
2. Istirahat
3. Olah raga
4. Makan yg sehat
5. Teman
6. Tertawa
Mari pelihara semua itu dalam semua tingkatan kehidupan & nikmatnya..!

Friday, 9 October 2015

Copas Dari GERAKAN ANTI SYIAH INDONEISA

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=833042113477287&id=497022233745945&substory_index=0


SUNGGUH Banyak Umat Islam yang Awwam Tertipu dgn SYI'AH
.
Inilah Tokoh Filsafat Syi'ah, Pemikir Berbahaya,ajarannya KAFIR.
Para Ulama Ahlu Sunnah telah mengingatkan akan Bahaya Pemikiran mereka. Contoh : IBNU SINA, ternyata dia SYI'AH ..!!! Berikut penjelasannya :
.
WASPADALAH Jika membaca Buku-buku hasil Pemikiran para Tokoh Filsuf (Filosofi / Filsafat) , yang sebagian dari Mereka adalah juga berasal dari GOLONGAN : SUFI / Tasawuf.
.
Di-antara Tokoh-tokoh ini adalah kaum yang berasal dari Negeri MAJUSI PERSIA (IRAN dan IRAK).
.
Contoh : IBNU SINA (Avicena).
.
Seorang Tokoh yang selama ini Di Puja-puji oleh Orientalis Barat,..Namun sesungguhnya justru Pemikirannya menghina ALLAH & RASUL.
.
Maka Para Alim Ulama terdahulu telah mem-Vonis-nya : KAFIR !
.
Pernah dalam Majalah Al-Muslimun nomor 247 dimuat resensi buku yaitu “Ibnu Sina sosok Ilmuwan Muslim”.
.
Rupanya Penulis resensi buku itu tidak mengerti tentang siapa sebenarnya Sosok Ibnu Sina...?
.
Kalau kita ingin menulis makalah tentang syakhshiyyah (pribadi seseorang) lebih dahulu kita harus merujuk kitab-kitab yang dikarang oleh Ulama-ulama Islam yang terdahulu yang masyhur, apa kata mereka tentang pribadi seseorang, baru kita pakai sebagai penguat itu ialah ucapan pam ulama yang belakangan. Kita lebih percaya kepada para Salafush-shalih dan orang yang mengikuti jejak mereka ketimbang ulama yang belakangan yang telah banyak menyimpang dari Manhaj mereka.
.
Para penulis yang memuji Ibnu Sina kebanyakan dari ahli filsafat dan Orientalist serta para ahli kedokteran, oleh karena itu semua buku yang menulis tentang Ibnu Sina selalu mereka merujuk kepada buku-buku Orientalist dan ahli filsafat. Mereka memuji Ibnu Sina karena kekaguman mereka terhadap karya-karyanya, di antara bukunya yang terkenal ialah “al-Qa-nuun fit-Thibb”(Canon of Medicine / Konstitusi ilmu kedokteran).
.
Buku-buku hasil pemikiran Ibnu Sina Lainnya adalah :
.
-Qanun fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
-Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
-An Najat
-Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur)
.
Selain karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terkenal adalah :
-Hayy ibn Yaqzhan
-Risalah Ath-Thair
-Risalah fi Sirr Al-Qadar
-Risalah fi Al- 'Isyq
-Tahshil As-Sa'adah.
.
Dan beberapa Puisi terpentingnya yaitu :
-Al-Urjuzah fi Ath-Thibb
-Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah
-Al-Qasidah Al- 'Ainiyyah
.
Namun Kita harus ingat, bahwa pujian yang mereka (kaum Orientalis barat) lontarkan tentunya mempunyai tujuan untuk merusak Islam, karena Ibnu Sina seorang ahli filsafat di samping ia ahli kedokteran dan buku-bukunya tentang filsafat sudah beredar di mana-mana. Dengan pujian dan menganggap ia sebagai seorang “Muslim” membuat kaum Muslimin berusaha membaca karya-karanya tentang filsafat yang isinya adalah racun bagi ummat Islam, sesat dan menyesatkan.
.
IBNU SINA BIOGRAFI DAN AQIDAHNYA.
.
Ibnu Sina (Avicenna) lahir pada bulan Shafar lahun 370 Hijriyyah / 980 M wafat tahun 1037 M. Tokoh Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Sejak masa remaja ia sudah kagum dcngan ilmu filsafat, ia banyak mengambil ilmu filsafat dari Ariestoteles. Filsafat ini dikembangkan oleh Ibnu Sina.
.
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu". Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).
.
Filsafat yang dianut olch Ariestoteles dan Ibnu Sina menurut ahli filsafat merupakan filsafat yang sangat-sangat aneh, karena keduanya berpendapat bahwa alam ini ada sebelum adanya (Allah), sedangkan para filosof sebelumnya berkata Bahwa alam ini baru (diciptakan), dan penciptanya ada. (kitab Ighatsatul-Lahafan hal: 257).
.
Ariestoteles dan lbnu Sina berpendapat bahwa Allah Subhana wa Ta’ala tidak mempunyai kekuasaan apa-apa dan tidak mengetahui sesuatu dan keduanya tidak beriman kepada Malaikat.
.
Malaikat menurut mereka adalah 'khayalan' para Nabi yang berupa cahaya.
.
Malaikat tidak bergerak, tidak naik, tidak turun, tidak berbicara, tidak menulis amal-amal hamba, tidak berpindah-pindah, tidak shalat, tidak rnencabut nyawa, tidak menulis rezeki, ajal dan amal, tidak ada di kanan dan di kiri manusia dll.
.
Semua ini menurut Ibnu Sina tidak ada hakikatnya.
(Kitab lghatsatul-Lahafan II : 261)
.
Mereka tidak percaya kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah Subhana wa Ta’ala melalui Malaikat, karena dia tidak bisa berkata apa-apa dan tidak akan berkata dan Malaikat tidak boleh berkata-kata. (ibid : 262).
.
KEYAKINAN IBNU SINA YANG SESAT TENTANG NABI DAN RASUL.
.
Rasul-Rasul dan Nabi-nabi menurut Ibnu Sina adalah bualan semata dan bukan utusan dari Allah Subhana wa Ta’ala. Para Nabi dan Rasul mempunyai 3 karakteristik, jika hal ini ada maka ia (menurut dia Ibnu Sina) Nabi :
.
1. Kekuatan menduga (mengetahui perkara berdasarkan perkiraan) hingga ia tahu dengan cepat batas pertengahan dari Sesuatu.
.
2. Kekuatan mengkhayal, seperti para Nabi mengkhayalkan bentuk cahaya serta cahaya itu dapat bercakap dengan dia dan ia dapat mendengar (cahaya yang dimaksud ialah Malaikat).
.
3. Kekuatan untuk mempengaruhi orang, dan ini dilakukan semata-mata dengan jiwa.
.
Semua ini bisa dilakukan dengan usaha.
.
Ibnu Sina berkata : “..Filsafat itu merupakan kenabian khusus, adapun kenabian adalah merupakan filsafat umum...”
.
(Kitab lghatsatul Lahafan min Mashayidis Syaithan II hal: 262 oleh Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Muhammad Hamid al-Faqiy cet. Darul Ma’rifah-Beirut ; dan Kitab al’Aqa-’id al-Bathiniyyah wa hukmul Islam fiiha hal : 247-248 oleh Dr. Shabir Tha’iimah cet. Maktabah ats-Tsaqafiyyah-Beirut).
.
PANDANGAN IBNU SINA TENTANG HARI KIAMAT :
.
Menurut pemikiran lbnu Sina dalam bukunya “ar-Risalah al-Adhhawiyyah fi Amril Ma’ad” (cet. Darul Fikr al-’Arabiy-Kairo th. 1368 H / 1949 M) ia berkeyakinan tidak beriman kepada pecahnya langit, berhamburannya bintang-bintang, bangkitnya manusia dengan jasadnya, dan tidak percaya bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengadakan alam ini dari tidak ada menjadi ada. Ia berkeyakinan alam ini Azaliy .--(kitab Dar’u Ta’arudhui ‘Aql wan Naql V:10 oleh Sayikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim cet. I th.1401 H / 1981 M ; kitab Ighatsatul Lahafan II hal. 262).
.
IBNU SINA ADALAH PENGIKUT ALIRAN SYI’AH SEKTE QARAMITHAH BATHINIYYAH
.
Ibnu Sina pernah memberitahukan tentang dirinya :
.
"..Aku dan Ayahku mengikuti ajaran al-Hakim (1) (kitab Ighatsatul-Lahafan 11 : 266) Dengan begitu jelaslah bahwa Ibnu Sina termasuk Sekte Qaramithah Bathiniyyah (2) sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Dr. Rasyad Salim, Muhammad ilamid al-Faqiy dan Dr. Shabir Tha’iimah.
.
(1). Al-Hakim adalah Manshur bin al’Aziz Billa Nizar bin al-Mu’iz-Billa al-’Abidiy Sulthan ke III, Kesultanan Syi’ah Fathimiyyah (Dibunuh oleh Sulthan Mahmud Al-Ghazi As-Saljuqi At-Turkey Rahimahullah dari Daulah As-Salajiqah pada Tahun 386 H / 996 M), khalifah Pendusta dan Jahat yang pernah menguasai seluruh wilayah Afrika Utara.
.
Ia mendakwakan dirinya sebagai Tuhan, ia banyak membunuh para ulama (tidak dapat dihitung bilangan ulama yang terbunuh, karena hanyaknya).
.
Ia menulis di Masjid-masjid Jami’ caci makian terhadap Sahabat Nabi : yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Aisyah dan para shahabat lainnya. Dia-lah sekarang yang dijadikan sesembahan oleh kelompok Druzz di Libanon dan sekte Isma’iliyyah di India. (kitab Ta’liq Ighatsatul-Lahafan oleh Syekh Muhammad Hamid al-Faqiy II hal : 266).
.
(2). Dinisbatkan kepada Hamdan bin al-Ash’ats, dikenal dengan Qurmuth karena ia orangnya pendek / jadi, pendek langkahnya (qurmuth). Ia seorang pembajak tanah di Kufah (Irak). Ia termasuk kelompok Kebathinan, mereka mengaku bahwa mereka orang Syi’ah, mereka adalah Atheis dan Zindiq (orang yang pura-pura Islam). Pada Tahun 286 H mereka mulai menampakkan da’wahnya (kepada kesesatan) melalui Sa’id al-Hasan bin Bahram al-Janabiy setelah ia mengikuti ajaran Syi'ah Qaramithah.
.
Kemudian da’wah Qaramithah ini berkembang dan banyaklah orang-orang jahat yang mengikutinya. Mereka pernah memasuki kota Makkah pada hari Tarwiyah tgl 8 Dzulhijjah th 317 H.
.
Lalu Mereka membunuh jama’ah hajji yang sedang Thawaf (mengelilingi Ka’bah) mereka mencabut pintu Ka’bah dan Kiswahnya, dan orang-orang yang dibunuh di-masukkan ke Sumur Zamzam.
.
Mereka mencopot Hajar Aswad dan mereka bawa ke Qothief dan tinggal di sana kurang- lebih selama 22 tahun.
.
Setelah Dunia Islam panik dengan kejahatan kaum Qaramithah, hingga Khalifah Abbasiyyah al-Muthi’ Billah al-Fadhl Bin al-Muqtadir Rahimahullah mengembalikan Hajar Aswad ketempatnya.
.
Sebenarnya sebelum itu juga mereka telah membunuh orang-orang yang ingin melaksanakan ibadah hajji dan menawan wanita-wanitanya.
(kitab Ta’liq Ighatsatul-Lahafan oleb Syekh Muhammad Hamid al-Faqiy II hal: 248 dan al-’Aqa-id al-Bathiniyyah oleh Dr. Shabir Tha’imah hal : 221 s/d 236)
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : “Semua kelompok Qaramithah LEBIH KUFUR dari Yahudi dan Nasrani bahkan lebih kufur dari kebanyakan kaum Musyrikin, karena mereka lebih berbahaya dari kafir harbiy, mereka berpura-pura mencintai Ahul Bait padahal pada hakikatnya mereka tidak beriman kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, tidak beriman kepada perintah, larangan, ganjaran dan siksa.
.
Dan mereka tidak beriman kepada Surga dan Neraka dan tidak juga beriman kepada seorangpun dari para Rasul sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. mereka mengambil dalil al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dari Ulama kaum Muslimin tetapi mereka ta’wilkan dan mereka mengada-adakan dusta serta menda’wakan bahwa yang demikian itu adalah ilmu Bathin.”
(kitab Fatawa Syaikhul Islam Jiid 35 halaman : 149-150)
.
BEBERAPA BANTAHAN PARA ULAMA ALHU SUNNAH TERHADAP BUKU-BUKU KARYA IBNU SINA :
.
1. Syaikh Muhammad asy-Syahrastani rahimahullah (lahir th 479 H wafat th 548 H), ia mengarang satu buku yang berjudul “al-Mushara’ah” [Buku yang ditulis oleh Imam Syahrastani adalah penyempurnaan dari buku Imarn Shadaruddin Asy-Syairazy rahimahullah, yang sebenarnya buku ini dibantah lagi oleh Ibnu Sina di saat Syairazy masih hidup, dua buku ini sudah dibaca oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. (kitab Al-Milal wan Nihal dan al-Ighatsah)].
.
Isi buku itu membantah keyakinan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa alam ini terdahulu, keyakinan dia tentang tidak adanya Hari Kiamat (dibangkitkan dengan jasad) serta ia berkeyakinan Allah tidak mempunyai ilmu dan kekuasaan. Beliau (Imam Muhammad asy-Syahrastani rahimahullah) menjelaskan bahwa keyakinan Ibnu Sina itu BATHIL. Tetapi Ibnu Sina tidak mau rujuk kepada kebenaran, bahkan ia menentang dan membantah buku Imam asy-Syairazy rahimahullah itu dengan mengarang satu buku yang berjudul “Mushara’atul Mushara’ah”, Di kitab itu Ibnu Sina menyatakan :
.
“Bahwasanya Allah tidak menciptakan langit dan Bumi dalam 6 (enam) hari, Allah tidak mengetahui sesuatu apapun, Allah tidak berbuat sesuatu dengan Qudrat dan Ikhtiyarnya dan Allah tidak membangkitkan manusia dari Kuburnya.”
(kitab Ighatsatul lahafan II hal. 266)
.
Setelah membawakan pendapat Imam asy-Syahrastani rahimahullah yang menyatakan ajaran Ibnu Sina itu Bathil, Imam lbnul Qayyim rahimahullah berkata :
.
“Kesimpulannya Ibnu Sina itu Seorang ATHEIS, Yang KUFUR KEPADA ALLAH,kepada para MalaikatNya, Kufur kepada Kitab-kitab Nya, Kufur kepada Rasul-Rasul Nya dan Kufur kepada hari Kiamat.”(kitab Ighatsatul.Lahfan 11 : 267)
.
Selanjutnya beliau rahimahullah berkata: “(Menurut ukuran kejelekan), Agama kaum Musyrikin lebih baik dari ajaran Ibnu Sina, al-Farabi dan para pengikutnya (maksudnya kejelekan kaum Musyrikin lebih ringan dibanding kejelekan Ibnu Sina) karena penyembah-penyembah berhala masih mempercayai Allah sebagai al-Khaliq (pencipta) yang mengadakan dari tidak ada, mereka percaya bahwa Allah BERKUASA DAN HIDUP, Penyembah berhala hanya berlaku syirik dalam soal ibadah. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman :
.
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” ( Qs. Az-Zumar : 3 ).
.
(sedang Ibnu Sina dalam semua hal)
(idem 268).
.
2. Imam Ibnul Qusyairiy rahimahullah mernbantah bukunya Ibnu Sina yang berjudul: Asy-Syifa 3). Asy-Syifa itu sebuah buku Ensikilopedia Filsafat, bantahan beliau rahimahullah dituliskan dalam bentuk Sya’ir :
Kami putuskan persaudaraan dengan sekelompok orang yang sakit yaitu penulis buku asy-Syifa’.
.
Berapa kali kami sudah kuingatkan : Wahai kaumku! Kalian ini berada di tepi jurang (neraka) bersama penulis buku asy-Syifa’.
.
Maka tatkala mereka sudah meremehkan peringatan kami, maka kami kembali kepada Allah, Allah cukup (sebagai pelindung kami),
.
Mereka (Ibnu Sina dan para pengikutnya) mati dalam keadaan mengikuti Agama (‘ajaran,) Ariestoteles, sedangkan kami hidup mengikuti agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . (kitab Fatawa Ibnu Taimiyyah 9 hal. 253)
.
3. Ibnul Jauzi al-Qurasyiy al-Baghdadiy rahimahullah berkata : “Kebanyakan AhIi Filsafat berkeyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengetahui sesuatu?? Ibnu Sina berkeyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengctahui yang partial?? Mereka adalah orang-orang yang PANDIR YANG TELAH DIHIASI OLEH IBLIS.”
(kitab Talbiisu Iblis oleh Ibnu Jauzi hal : 47, Tahqiq Mahmud Mahdi al-Istambuli cet. Muassasah ‘ulumul Qur’an-Damaskus).
.
4. Ibnu Sina menulis buku yang berjudul “al-Isyaaraat wat Tanbiihaat, buku ini ada beberapa jilid yang berisi tentang kayakinan di dalam masalah Dzat, Wujud dan sebagainya. Buku ini telah disyarah oleh seorang filosop Israel. Dan buku Ibnu Sina ini telah dibantah oleh Syaikhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Dar’u Ta’a-rudhul’Aql wan Naql jilid V dan halaman 87 sampai dengan halaman 152 tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim cet. th 1401 H/1981.M. Di halaman 130-131 Ibnu Taimiyyah berkata : “Mereka-mereka yang mengingkari adanya Malaikat adalah Kafir …. dan Ulama’ salaf telah sepakat bahwa mereka yang mengingkari sifat-sifat Allah adalah orang yang paling bodoh dan paling sesat.”
.
5. Berkata Dr.Shabir Tha’iimah rahimahullah : “..Aqidah kebathinan yang dianut oleh (Syiah) sekte Qaramithah, Isma’iliyah dan Nushairiyah adalah KAFIR karena mereka menolak Rukun Iman dan hukum-hukum Islam, dan mereka telah dipengaruhi oleh Filsafat Yunani, Persia dan India. Mereka mengaku-ngaku dirinya sebagai orang-orang Muslim? Padahal mereka sangat jauh dari Islam dan kaum Muslimin. Di antara tokoh-tokohnya ialah : Ibnu Mulkan, Ibnu Sab’in, IBNU ‘ARABY, AL-HALLAJ, IBNU SINA DAN dan yang selain mereka.” (kitab al-’Aqaaid al-Bathiniyyah wa hukmul Islam fiiha halaman 242 s/d 249).
.
IBNU SINA DAN PARA PENGIKUTNYA MENURUT AL-QUR’AN
.
Ibnu Sina dan para pengikutnya menurut al-Qur’an adalah orang-orang bodoh, sombong, sesat dan Kafir. Allah Subhana wa Ta’ala Berfirman :
.
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” ( Qs.Al-Mukmin : 56 ).
.
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” ( Qs.Al-Baqarah : 13 ).
.
“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” ( Qs. Al-Mu’min : 83 ).
.
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” ( Qs.An Nisaa’ : 136 ).
.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” ( Qs. An Nisaa’ : 150-151 ).
.
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( Qs. Al A’raaf : 147 ).
.
Sesungguhnya seeeorang bisa dikatakan beriman apabila ia beriman kepada Allah, Malaikat- Malaikat-Nya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir dan apa yang ditakdirkan Allah kepada dirinya yang baik maupun yang buruk. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
,”Iman itu ialah : Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk” ( Shahih Riwayat Imam Muslim no. 8 ).
.
Maka perhatikanlah bahwa Ibnu Sina tidak beriman kepada apa yang discbutkan dalam al-Qur’an dan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia malah mengikuti dan membela ajaran Ariestoteles, Syi’ah Qaramithah Bathiniyyah dan dia mati dalam keadaan meyakini ajaran yang sesat tersebut.
.
Allah Subhana wa Ta’ala berfirman :
.
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” ( Qs.Al-‘Imran : 85 ).
.
Mungkin Ada orang yang berkata : “tidak boleh mengkafirkan seseorang dari ahli qiblat dengan sebab satu dosa “
.
Maka kami jawab : Tetapi Ibnu Sina telah berbuat dosa-dosa besar dan telah MURTAD dari Islam dan dia telah KUFUR I’TIQADIY,
.
dan orang yang membela Ibnu Sina berarti ia telah menjadi pengikutnya, dan bisa disamakan hukumnya dengan dia
.
(kitab al-Wala’ wal Bara’fil Islam bab Nawaqidhul Islam hal : 75 oleh Muhammad bin Sa’id bin Salim al-Qahthani MA cet. Daar Thayyibah dan al Imam Akamuhu haqiqatuhu Nawaqidhuhu hal. 219 dan 241 olch Dr. Muhammad Na’im Yasin, cet. V Mahtu-batul falaah 1407/1987).
KESIMPULANNYA :
.
Apabila kita mau menilai sescorang maka kita wajib menilai dengan neraca yang adil yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Tidak boleh kita menilai seseorang itu baik berdasarkan jasa-jasanya atau kehebatan maupun keahliannya, karena banyak sekali orang-orang kafir yang telah berjasa untuk kepentingan kaum Muslimin dan mereka tetap dikatakan kafir.
.
Pertama kali kita nilai seseorang adalah tentang aqidahnya, benar atau salah, musyrik, kafir atau mu’min dan sesudah itu baru yang lainnya.
.
Ibnu Sina menurut ukuran nilai Islam dia TELAH KAFIR, jadi Ibnu Sina bukanlah cendekiawan Muslim, tetapi CENDEKIAWAN KAFIR.
.
Ingat kita harus hati-hati terhadap pengaruh Filsafat Ibnu Sina yang dikembangkan oleh para Orientalis dan bertujuan untuk menyesatkan kaum Muslimin. Bila aqidah sudah hancur amal-pun pasti akan gugur...!
.
Na'udzubillahi Min Dzalik ...! ... Waspadalah, Jangan tertipu !
.
------------------------------------
.
Sumber Referensi :
.
Al-Ustadz Yazid Ibn Abdul Qodir Jawaz Hafizhahullah.
.
Al-Qur'an dan Al Hadits.
kitab Ighatsatul-Lahafan hal: 257
Kitab lghatsatul-Lahafan II : 261
Kitab lghatsatul Lahafan min Mashayidis Syaithan II hal: 262 oleh Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Muhammad Hamid al-Faqiy cet. Darul Ma’rifah-Beirut ; dan Kitab al’Aqa-’id al-Bathiniyyah wa hukmul Islam fiiha hal : 247-248 oleh Dr. Shabir Tha’iimah cet. Maktabah ats-Tsaqafiyyah-Beirut.
Kitab ar-Risalah al-Adhhawiyyah fi Amril Ma’ad” (cet. Darul Fikr al-’Arabiy-Kairo th. 1368 H / 1949 M.
kitab Dar’u Ta’arudhui ‘Aql wan Naql V:10 oleh Sayikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim cet. I th.1401 H / 1981 M ; kitab Ighatsatul Lahafan II hal. 262)
kitab Ta’liq Ighatsatul-Lahafan oleh Syekh Muhammad Hamid al-Faqiy II hal : 266
kitab Ta’liq Ighatsatul-Lahafan oleb Syekh Muhammad Hamid al-Faqiy II hal: 248 dan al-’Aqa-id al-Bathiniyyah oleh Dr. Shabir Tha’imah hal : 221 s/d 236)
kitab Fatawa Ibnu Taimiyyah 9 hal. 253.
kitab Fatawa Syaikhul Islam Jiid 35 halaman : 149-150
kitab Al-Milal wan Nihal dan al-Ighatsah.
kitab Talbiisu Iblis oleh Ibnu Jauzi hal : 47, Tahqiq Mahmud Mahdi al-Istambuli cet. Muassasah ‘ulumul Qur’an-Damaskus
kitab al-’Aqaaid al-Bathiniyyah wa hukmul Islam fiiha halaman 242 s/d 249
kitab al-Wala’ wal Bara’fil Islam bab Nawaqidhul Islam hal : 75 oleh Muhammad bin Sa’id bin Salim al-Qahthani MA cet. Daar Thayyibah dan al Imam Akamuhu haqiqatuhu Nawaqidhuhu hal. 219 dan 241 olch Dr. Muhammad Na’im Yasin, cet. V Mahtu-batul falaah 1407/1987.
http://bukancumadokter.wordpress.com/…/benarkah-ibnu-sina-…/ melalui https://aslibumiayu.wordpress.com/…/ibnu-sina-banyak-kaum-…/
http://tabayyunnews.com/…/ibnu-sina-banyak-kaum-muslimin-y…/


https://www.facebook.com/IndonesiaDaruratSyiah/videos/1596824947218290/

Kata pendeta Syiah: Hanya Wahabi Yang Tidak Suka Syiah

Pendeta syiah Sayid Muhammad Rizvi seperti kebiasaan syiah lainnya, berdusta dengan berkata hubungan syiah sunni di Indonesia tegang hanya karena masalah politik bukan karena masalah kepercayaan & praktek syiah
SYI'AH BUKANLAH ISLAM

Suatu hari terjadi dialog antara da’i ahlus sunnah dengan tokoh syi’ah,

(Sunni) : Apakah menurutmu Abu Bakar itu najis dan khobits (menjijikkan)?
(Syi’i) : iya, tentu!
(Sunni) : Apakah berarti istri Abu Bakar juga khobits? karena dalam Al-Qur’an disebutkan lelaki khobits untuk wanita khobits dan begitu pula sebaliknya.
(Syi’i) : Tentu! istri dia juga khobits.
(Sunni) : tapi ternyata salah satu mantan istri Abu Bakar, dinikahi oleh Ali bin Abi Tholib! yaitu Asma’ binti ‘Umais, apakah Ali juga khobits?
(Syi’i) : [agak bingung], o.. tidak! jelas tidak! Asma’ dulunya khobits, kemudian dia bertaubat lalu menjadi suci dan dinikahi oleh Ali.
(Sunni) : berarti sebelum dinikahi oleh Ali, Asma’ seorang wanita yang khobits?
(Syi’i) : Tepat!
(Sunni) : tapi sebelum dinikahi oleh Abu Bakar, Asma’ ini adalah istrinya Ja’far, saudara kandung Ali! apakah Ja’far seorang yang khobits?
(Syi’i) : hah? tentu tidak!
(Sunni) : kata anda sebelum dinikahi Ali, Asma’ adalah wanita yang khobits bukan? Jika demikian suami dia juga khobits, yaitu Ja’far! Atau sebenarnya Asma’ ini wanita yang baik, dan suami dia juga baik, yaitu Abu Bakar! Bukan demikian logika yang anda terapkan? Apa anda akan mengatakan, “Asma adalah wanita yang baik ketika dinikahi oleh Ja’far, dan menjadi khobits ketika dinikahi oleh Abu Bakar, dan menjadi baik lagi ketika dinikahi oleh Ali? Jadi standar kalian dalam menerapkan kaidah ini bagaimana?
(Syi’i) : [diam tak bersuara].
Dikisahkan oleh Syekh Badar Muhammad Baqir (mantan syi’ah yang kini menjadi pakar anti syi’ah di Kuwait), saat acara Dauroh anti syi’ah di Ma’had Bin Baz Jogja, tahun 2011.
# Faedah dari Ust Yasin Aminullah

Tuesday, 28 July 2015

Cara Partisi SD Card Menggunakan Minitool Partition Wizard

Cara Partisi SD Card Menggunakan Minitool Partition Wizard - Sebelum menggunakan perangkat smartphone dengan OS Android, mimin tidak pernah mendengar istilah partisi. Hingga suatu ketika mimin memutuskan untuk menggunakan sebuah aplikasi bernama Link2SD, dan aplikasi tersebut meminta mimin untuk melakukan partisi pada microSD Card yang mimin gunakan untuk dapat memanfaatkan fitur pada aplikasi tersebut secara maksimal. Karena penasaran, mimin pun memutuskan untuk mencari tau di blog-blog sebelah, dan akhirnya mimin baru paham arti dari partisi tersebut dan apa fungsi atau kegunaannya. Secara default, sebuah SD Card hanya memiliki satu buah partisi dengan system file fat32.
BACA JUGA : Apa itu partisi
Tujuan melakukan partisi SD card adalah untuk membagi memori atau ruang yang tersedia (secara virtual) menjadi beberapa bagian (dalam kasus ini menjadi 2 atau 3 bagian). Manfaat dari partisi SD Card adalah untuk memisahkan kumpulan data agar kita dapat menyimpan data tertentu pada partisi yang berbeda. Nah bingung kan? Makanya coba baca dulu deh artikel yang mimin kasih di link diatas itu.
Dalam kasus ini, kita akan dapat memanfaatkan partisi pada microSD card untuk membantu meringankan beban memory internal pada perangkat Android dengan memanfaatkan aplikasi seperti misalnya Link2SD. Oke mimin tidak akan berpanjang lebar lagi, berikut adalah langkah-langkah, alat serta bahan yang harus kamu punya untuk melakukan partisi pada memory:
BAHAN :
1. Install aplikasi Minitool Partition Wizard pada PC / Laptop. Silahkan sedot disini.
2. Card reader untuk menghubungkan microSD dengan PC/laptop. Kamu juga bisa menggunakan Adapter microSD jika laptop mu sudah mendukung fitur card reader.
Mohon diperhatikan untuk pengguna smartphone keluarga XPERIA dari Sony. Jika Link2SD memberikan pesan error pada perangkatmu setelah melakukan partisi, silahkan lanjut membaca di halaman berikutnya.
Langkah-langkah :
1. Sambungkan SD card ke PC dengan menggunakan card reader. Pastikan memory tersebut dapat terbaca dengan baik dan terdapat slot kosong setidaknya sekitar 500 MB hingga 1 GB.
2. Jangan lupa untuk backup semua file pada microSD ke PC/laptop milikmu (caranya tinggal mengcpoy / paste file nya ke PC). Jalankan aplikasi Minitool Partition Wizard pada PC. Pada apps tersebut, SD card milikmu akan terdeteksi di bawah disk 2 (F: ) seperti gambar di bawah
Mendeteksi sd card di minitool
3. Pilih disk 2 (F: ), klik kanan lalu pilih menu Move/Resize.
Cara menggunakan minitool partition wizard
4. Akan muncul tampilan seperti pada gambar dibawah ini. Perhatikan kotak atau bar yang berada dibawah section Size and location. Disana akan tertulis besaran ruang yang dimiliki oleh partisi utama (partisi 1) yang ada pada SD card yang kamu gunakan. Silahkan geser atau perkecil bar tersebut ke arah yang ditunjuk oleh gambar dibawah. Mohon baca keterangan dibawah gambar ini sebelum melanjutkan.

Mengatur besar ruangan memory sd card
KETERANGAN : Bagian ini merupakan partisi pertama (partisi 1) yang berguna untuk menyimpan data seperti musik, gambar dll sehingga membutuhkan memory yang besar. Untuk SD Card berkapasitas kecil (seperti pada contoh, 2 GB) mimin sarankan untuk menggunakan partisi ini sebesar 1.5 GB atau sesuai kebutuhan mu. Untuk memori yang lebih besar, silahkan atur sendiri sesuai kebutuhan mu, yang pasti partisi ini disarankan menggunakan memory sekitar 75-90% atau lebih (yang paling besar) dari kapasitas memory yang tersedia. Perlu dicatat pula bahwa kamu tidak perlu menyediakan ruang yang terlalu besar untuk partisi kedua nanti.

Perhatikan gambar diatas. Pada bagian yang diberi nomor 1 (partition size) merupakan besaran kapasitas untuk partisi ini (partisi 1). Sedangkan bagian yang diberi nomor 2 (unallocated space after) adalah besaran kapasitas yang tidak terpakai dan nanti akan kita manfaatkan sebagai partisi kedua. Jika sudah menentukan besarannya, silahkan klik OK untuk melanjutkan.
5. Sekarang akan muncul sebuah partisi baru yang terdapat dibawah disk 2 (F:) seperti pada gambar dibawah ini.

Mempartisi sd card
Pilih partisi tersebut, klik kanan lalu pilih Create seperti pada gambar dibawah ini. Jika muncul tanda peringatan, silahkan klik OK saja.
Cara partisi sd card dengan minitool
6. Akan muncul tampilan seperti pada gambar dibawah ini. Mohon diperhatikan pengaturan yang ada di dalam kotak berwarna merah. Lakukan pengaturan berikut :
Create as : Primary
File System : Ext 2

Pengaturan untuk mempartisi sd card
Pengaturan diatas sangatlah penting karena jika terlupa maka partisi kedua ini tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Perlu diperhatikan pula bahwa File system Ext2 tersebut adalah jenis file system yang disarankan untuk penggunaan aplikasi Link2SD. Jika kamu berniat untuk menggunakan partisi kedua untuk hal lain (aplikasi lain) silahkan sesuaikan dengan kebutuhan. Jika kamu hanya berniat untuk membuat 2 partisi saja (untuk menggunakan Link2SD), maka kamu bisa langsung mengklik OK tanpa mengubah besaran kapasitas penyimpanan pada bar Size and location dan kamu bisa langsung loncat ke langkah nomor 9.

Namun jika kamu ingin membuat partisi tambahan untuk hal lain, silahkan sesuaikan besarannya seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Untuk microSD dengan kapasitas kecil (4GB kebawah) tidak disarankan untuk membuat partisi lebih dari 2.

7. Sama seperti sebelumnya, jika kamu menyisakan kapasitas penyimpanan pada partisi sebelumnya, maka di menu awal aplikasi Minitool Partition Wizard akan menampilkan sebuah partisi baru. Silahkan pilih dan klik kanan partisi baru (partisi ke-3) tersebut dan pilih Create.
Membuat partisi baru di sd card
8. Biasanya partisi ketiga ini digunakan untuk membantu kinerja RAM pada perangkat dengan menggunakan aplikasi tambahan lain pada perangkat smartphone/tablet sehingga tidak diperlukan kapasitas yang terlalu besar (dibawah 500 MB). Dan biasanya file system yang digunakan untuk itu adalah Linux Swap, sehingga pengaturannya seperti pada gambar dibawah ini :
Create as : Primary
File system : Linux Swap
9. Sekarang perhatikan gambar dibawah ini khususnya yang berada di dalam kotak. Pastikan kamu telah melakukan setting Primary pada Type di semua partisi, dan untuk partisi pertama kamu Wajib menggunakan File system FAT32. Jika kamu hanya membuat 2 partisi maka tentunya partisi yang paling bawah itu tidak akan muncul.
SD card yang akan dipartisi
10. Mimin sarankan untuk melakukan cek kembali apakah settingan yang kamu lakukan sudah sesuai dengan keinginanmu, dan kembali mimin ingatkan untuk memperhatikan hal yang mimin tulis di langkah nomor 9. Jika ternyata kamu melakukan kesalahan atau ingin mengubah settingan, kamu bisa mengklik tombol Discard yang berada di bagian atas aplikasi dan kamu bisa mengulangi semuanya dari awal lagi. Atau jika kamu sudah yakin dengan settinganmu, silahkan klik tombol Apply yang berada di bagian kiri atas aplikasi.
Membuat partisi baru di sd card
11. Kamu disarankan untuk menutup aplikasi selain Minitool (kamu tetap boleh membuka browser untuk membaca artikel ini) dan bagi kamu yang menggunakan laptop, disarankan untuk tidak menggunakan power saving mode untuk mempercepat proses. Tunggu hingga proses selesai.
12. Dan sekarang microSD milikmu telah di partisi. Sekarang kamu bisa mencoba menggunakan aplikasi Link2SD pada perangkat Android milikmu. Jika kamu masih bingung untuk menggunakannya, kamu bisa membaca panduannya pada artikel cara menggunakan Link2SD.
Jika suatu saat kamu ingin menghapus partisi yang sudah kamu buat pada SD card, silahkan ikuti tutorialnya pada posting cara menghapus partisi SD card.

Thanks To  http://www.duniagadget558.com

Monday, 6 July 2015

Surga Dan Neraka

Bacalah sampai habis saudare2 ku... Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail & beberapa malaikat yang lain. Selepas itu, Izrail pun mencabut nyawa malaikat yang tinggal dan akhirnya nyawanya sendiri.
* Selepas semua makhluk mati, Tuhan pun berfirman mafhumnya "Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini?" Tiada siapa yang menjawab. Lalu Dia sendiri menjawab dengan keagunganNya "Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." Ini menunjukkan kebesaran & keagunganNya sebagai Tuhan yg Maha Kuasa lagi Maha Kekal Hidup, tidak mati.
* Selepas 40 tahun, Malaikat Israfil a.s. dihidupkan, seterusnya meniup sangkakala untuk kali ke-2, lantas seluruh makhluk hidup semula di atas bumi putih, berupa padang Mahsyar (umpama padang Arafah) yang rata tidak berbukit atau bulat seperti bumi.
* Sekelian manusia hidup melalui benih anak Adam yg disebut "Ajbuz Zanbi" yang berada di hujung tulang belakang mereka. Hiduplah manusia umpama anak pokok yang kembang membesar dari biji benih.
* Semua manusia dan jin dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan hina. Mereka tidak rasa malu kerana pada ketika itu hati mereka sangat takut dan bimbang tentang nasib & masa depan yang akan mereka hadapi kelak.
* Lalu datanglah api yang berterbangan dengan bunyi seperti guruh yang menghalau manusia, jin dan binatang ke tempat perhimpunan besar. Bergeraklah mereka menggunakan tunggangan (bagi yang banyak amal), berjalan kaki (bagi yang kurang amalan) dan berjalan dengan muka (bagi yang banyak dosa). Ketika itu, ibu akan lupakan anak, suami akan lupakan isteri, setiap manusia sibuk memikirkan nasib mereka.
* Setelah semua makhluk dikumpulkan, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, lalu mereka tinggal dalam kegelapan tanpa cahaya. Berlakulah huru-hara yang amat dahsyat.
* Tiba-tiba langit yang tebal pecah dengan bunyi yang dahsyat, lalu turunlah malaikat sambil bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh makhluk terkejut melihat saiz malaikat yang besar dan suaranya yang menakutkan.
* Kemudian matahari muncul semula dengan kepanasan yang berganda. Hingga dirasakan seakan-akan matahari berada sejengkal dari atas kepala mereka. Ulama berkata jika matahari naik di bumi seperti keadaannya naik dihari Kiamat nescaya seluruh bumi terbakar, bukit-bukau hancur dan sungai menjadi kering. Lalu mereka rasai kepanasan dan bermandikan peluh sehingga peluh mereka menjadi lautan. Timbul atau tenggelam mereka bergantung pada amalan masing-masing. Keadaan mereka berlanjutan sehingga 1000 tahun.
* Terdapat satu telaga kepunyaan Nabi Muhammad SAW bernama Al-Kausar yang mengandungi air yang hanya dapat diminum oleh orang mukmin sahaja. Orang bukan mukmin akan dihalau oleh malaikat yang menjaganya. Jika diminum airnya tidak akan haus selama-lamanya. Kolam ini berbentuk segi empat tepat sebesar satu bulan perjalanan. Bau air kolam ini lebih harum dari kasturi, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih sejuk dari embun. Ia mempunyai saluran yang mengalir dari syurga.
* Semua makhluk berada bawah cahaya matahari yang terik kecuali 7 golongan yang mendapat teduhan dari Arasy. Mereka ialah: 1- Pemimpin yang adil. 2- Orang muda yang taat kepada perintah Allah. 3- Lelaki yang terikat hatinya dengan masjid. 4- Dua orang yang bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah. 5- Lelaki yang diajak oleh wanita berzina, tetapi dia menolak dengan berkata "Aku takut pada Allah". 6- Lelaki yg bersedekah dengan bersembunyi (tidak diketahui orang ramai). 7- Lelaki yang suka bersendirian mengingati Allah lalu mengalir air matanya kerana takutkan Allah.
* Oleh kerana tersangat lama menunggu di padang mahsyar, semua manusia tidak tahu berbuat apa melainkan mereka yang beriman, kemudian mereka terdengar suara "pergilah berjumpa dengan para Nabi". Maka mereka pun pergi mencari para Nabi. Pertama sekali kumpulan manusia ini berjumpa dengan Nabi Adam tetapi usaha mereka gagal kerana Nabi Adam a.s menyatakan beliau juga ada melakukan kesalahan dengan Allah SWT. Maka kumpulan besar itu kemudiannya berjumpa Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. (semuanya memberikan sebab seperti Nabi Adam a.s.) dan akhirnya mereka berjumpa Rasullullah SAW. Jarak masa antara satu nabi dengan yang lain adalah 1000 tahun perjalanan.
* Lalu berdoalah baginda Nabi Muhammad SAW ke hadrat Allah SWT. Lalu diperkenankan doa baginda.
* Selepas itu, terdengar bunyi pukulan gendang yang kuat hingga menakutkan hati semua makhluk kerana mereka sangka azab akan turun. Lalu terbelah langit, turunlah arasy Tuhan yang dipikul oleh 8 malaikat yang sangat besar (besarnya sejarak perjalanan 20 ribu tahun) sambil bertasbih dengan suara yang amat kuat sehingga 'Arasy itu tiba dibumi.
* 'Arasy ialah jisim nurani yang amat besar berbentuk kubah (bumbung bulat) yang mempunyai 4 batang tiang yang sentiasa dipikul oleh 4 malaikat yang besar dan gagah. Dalam bahasa mudah ia seumpama istana yang mempunyai seribu bilik yang menempatkan jutaan malaikat di dalamnya. Ia dilingkungi embun yang menghijab cahayanya yang sangat kuat.
* Kursi iaitu jisim nurani yang terletak di hadapan Arasy yang dipikul oleh 4 malaikat yang sangat besar. Saiz kursi lebih kecil dari 'Arasy umpama cincin ditengah padang . Dalam bahasa mudah ia umpama singgahsana yang terletak dihadapan istana.
* Seluruh makhluk pun menundukkan kepala kerana takut. Lalu dimulakan timbangan amal. Ketika itu berterbanganlah kitab amalan masing-masing turun dari bawah Arasy menuju ke leher pemiliknya tanpa silap dan tergantunglah ia sehingga mereka dipanggil untuk dihisab. Kitab amalan ini telah ditulis oleh malaikat Hafazhah / Raqib & 'Atid / Kiraman Katibin.
* Manusia beratur dalam saf mengikut Nabi dan pemimpin masing- masing. Orang kafir & munafik beratur bersama pemimpin mereka yang zalim. Setiap pengikut ada tanda mereka tersendiri untuk dibezakan.
* Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad SAW, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah solat. Sedangkan hukum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.
* Apabila tiba giliran seseorang hendak dihisab amalannya, malaikat akan mencabut kitab mereka lalu diserahkan, lalu pemiliknya mengambil dengan tangan kanan bagi orang mukmin dan dengan tangan kiri jika orang bukan mukmin.
* Semua makhluk akan dihisab amalan mereka menggunakan satu Neraca Timbangan. Saiznya amat besar, mempunyai satu tiang yang mempunyai lidah dan 2 daun. Daun yang bercahaya untuk menimbang pahala dan yang gelap untuk menimbang dosa.
* Acara ini disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW dan para imam 4 mazhab untuk menyaksikan pengikut masing-masing dihisab.
* Perkara pertama yang diminta ialah Islam. Jika dia bukan Islam, maka seluruh amalan baiknya tidak ditimbang bahkan amalan buruk tetap akan ditimbang.
* Ketika dihisab, mulut manusia akan dipateri, tangan akan berkata- kata, kaki akan menjadi saksi. Tiada dolak-dalih dan hujah tipuan. Semua akan di adili oleh Allah Ta'ala dengan Maha Bijaksana.
* Setelah amalan ditimbang, mahkamah Mahsyar dibuka kepada orang ramai untuk menuntut hak masing-masing dari makhluk yang sedang dibicara sehinggalah seluruh makhluk berpuas hati dan dibenarkannya menyeberangi titian sirat.
* Syafaat Nabi Muhammad SAW di akhirat : 1- Meringankan penderitaan makhluk di Padang Mahsyar dengan mempercepatkan hisab. 2- Memasukkan manusia ke dalam syurga tanpa hisab. 3- Mengeluarkan manusia yang mempunyai iman sebesar zarah dari neraka. (Semua syafaat ini tertakluk kepada keizinan Allah SWT.)
* Para nabi dan rasul serta golongan khawas juga diberikan izin oleh Tuhan untuk memberi syafaat kepada para pengikut mereka. Mereka ini berjumlah 70 000. Setiap seorang dari mereka akan mensyafaatkan 70 000 orang yang lain.
* Setelah berjaya dihisab, manusia akan mula berjalan menuju syurga melintasi jambatan sirat. Siratul Mustaqim ialah jambatan (titian) yang terbentang dibawahnya neraka. Lebar jambatan ini adalah seperti sehelai rambut yang dibelah tujuh dan ia lebih tajam dari mata pedang. Bagi orang mukmin ia akan dilebarkan dan dimudahkan menyeberanginya.
* Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di Sirat memakan masa 15000 tahun. 5000 tahun menaik, 5000 tahun mendatar dan 5000 tahun menurun. Ada makhluk yang melintasinya seperti kilat, seperti angin, menunggang binatang korban dan berjalan kaki. Ada yang tidak dapat melepasinya disebabkan api neraka sentiasa menarik kaki mereka, lalu mereka jatuh ke dalamnya.
* Para malaikat berdiri di kanan dan kiri sirat mengawasi setiap makhluk yang lalu. Setiap 1000 orang yang meniti sirat, hanya seorang sahaja yang Berjaya melepasinya. 999 orang akan terjatuh ke dalam neraka.
Rujukan: Kitab Aqidatun Najin karangan Syeikh Zainal Abidin Muhammad Al- Fathani. Pustaka Nasional Singapura 2004.
sekiranya anda ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada sahabat² yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW: ❝ Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat. ❞ Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :
1- Sedekah/amal jariahnya. 2- Doa anak²nya yang soleh. 3- Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.

Renungan Untuk Semua Umat Manusia Muslim


Berasa blm bisa jd hamba Allah yg baik setiap habis baca ini, selalu saya ulang baca dan bikin nangis, maaf ya Allah... maaf..

Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur. Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”.
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Engkau dapat mengenaliku karena engkau adalah Khatamul Anbiya. Aku datang atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam as hingga akhir zaman nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, aku tidak berani menyembunyikannya”.
Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatahpun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu”.
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1) :
“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.
Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun gemetar karena ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku dapat merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah. Andaikan aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu.
Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu juga aku berusaha menarik mereka kepada kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku”.
Pertanyaan Nabi (2) :
“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk Allah?”
Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, berbuai dengan makanan dan minuman, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.
Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan perempuan bercampur. Di sana aku lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa peraturan dan akhirnya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka lalu hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan aku rayu supaya mereka membatalkannya. Semakin keras aku goda supaya mereka berbuat maksiat dan mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’, takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat”.
Pertanyaan Nabi (3) :
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?
Jawab Iblis : “Semuanya itu adalah anugerah dari Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke langit yang lebih tinggi. Kemudian aku tinggal di dunia ini beribadah bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan manusia yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya aku saja yang ingkar. Oleh karena itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun aku masih belum puas dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga hari kiamat kelak.
Sebelum engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia, tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadah dan balasan pahala serta syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia dan memberitahu manusia yang lain tentang apa yang sebenarnya aku dapatkan dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan kehancuran.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri rahasia karena banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku memaksa untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut manusia”.
Pertanyaan Nabi (4) :
Rasullullah bertanya “Hai Iblis! Apa yang pertama kali kau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis : “Pertama kali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan aku tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.
Pertanyaan Nabi (5) :
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda manusia pada setiap anggota badannya.
Beberapa iblis datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, hilang khusyuknya, matanya senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.
Beberapa iblis yang lain duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya tidak kuat sujud berlama-lama, penat waktu duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat”.
Pertanyaan Nabi (6) :
“Jika umatku membaca Al-Qur’an karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an karena Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku lalu aku lari dan menjauh darinya”.
Pertanyaan Nabi (7) :
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.
Pertanyaan Nabi (8) :
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.
Pertanyaan Nabi (9) :
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk”.
Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.
Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, aku tidak berani memandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan : “Jikalau ada Nabi sesudah aku, maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Sayyidina Usman bin Affan, aku tidak bisa bertemu karena lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang menghampiri dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan : “Barangsiapa menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta merah, niscaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid”.
Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadah dan beliau adalah golongan orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, aku semakin ngeri kepadanya”.
Pertanyaan Nabi (10) :
“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”
Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang pertama, seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril as : “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga, umatmu seperti Fir’aun, terlampau tamak dengan harta dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku ajak kemana saja mengikuti kemauanku. Jadi dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau menuntut ilmu, tidak pernah beramal saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan malas beribadah.
Lalu aku goda agar manusia minta kekayaan lebih dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka aku rayu supaya lupa beramal, tidak membayar zakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.
Pertanyaan Nabi (11) :
“Siapa yang serupa denganmu?”
Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang yang belajar agama Islam”.
Pertanyaan Nabi (12) :
“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”
Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.
Pertanyaan Nabi (13) :
“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”
Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.
Pertanyaan Nabi (14) :
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau lakukan?”
Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka aku lari dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku santap makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka merasa kenyang”.
Pertanyaan Nabi (15) :
“Apa yang dapat menolak tipu dayamu?”
Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.
Pertanyaan Nabi (16) :
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”
Jawab Iblis : “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”.
Pertanyaan Nabi (17) :
“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”
Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat”.
Pertanyaan Nabi (18) :
“Apa yang dapat membinasakan dirimu?”
Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.
Pertanyaan Nabi (19) :
“Hai Iblis! ?” Apa yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan beri’tikaf di dalamnya”.
Pertanyaan Nabi (20) :
“Apa lagi yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.

(Dikutip dari : KH. Abdullah Gymnastiar, Muhasabah Kiat Sukses Introspeksi Diri, Penerbit Difa Press, September 2006)